Bibit Bebet Bobot Untuk Kebahagiaan Hidup

Anda pasti pernah mendengar kata-kata jawa kuno tersebut bukan? Ya jelas kuno, bibit bebet bobot itu adalah pakemnya orang dulu, orang jadul bukan orang sekarang, sekarang sudah modern. Kira-kira hal tersebutlah yang ada dalam pikiran anak muda jaman sekarang. Benarkah bibit bebet bobot hanya untuk orang-orang jaman dahulu? Tidakkah bibit bebet bobot mempunyai maksud yang baik?

Sebenarnya orang-orang tua jaman dahulu telah membuat suatu ajaran atau pakem yang jelas untuk mencari jodoh supaya dalam hidup berumah tangga bisa mencapai kebahagiaan, baik secara moril maupun materil. Nanti akan saya ceritakan pentingnya memperhatikan ajaran bibit bebet bobot tersebut berdasarkan pengalaman.

Bibit berarti dalam mencari pasangan hidup harus memperhatikan bibitnya bagaimana? Apakah dia keturunan orang baik-baik atau bukan? Apakah keturunan dari keluarga yang mudah mendapatkan anak (rendel) atau susah mendapatkan anak? Apakah dia dari keturunan orang-orang yang sehat atau berpenyakit misalkan gila, penyakit syaraf, dan lain sebagainya.

Percaya atau tidak kalau pasangan kita keturunan dari orang-orang yang susah mendapatkan anak makan setelah menikahakan susah mendapatkan anak. Memang pada jaman sekarang jaman alat kontrasepsi diberlakukan atau jamannya KB tidak mudah membedakan mana yang dari keluarga yang banyak keturunannya dan mana dari keluarga yang susah mendapatkan keturunan. Bila anda berpikiran jaman sekarang sudah banyak obat penyubur kandungan dan semua bisa diatasi dengan uang yang terserah anda, namun bagaimana kalau anda yang tidak mempunyai uang atau uang anda pas-pasan? Biaya untuk menyuburkan kandungan dan proses pembuahan sel telur dengan cara buatan membutuhkan biaya yang tidak sediki.

Ini adalah kisah nyata yang mungkin bisa anda petik pelajarannya untuk anda yang mau menikah dengan pasangan anda tanpa memperhtikan bibit. Dalam perjalanan pulang kampung dengan naik kereta saya bertemu dengan seorang laki-laki dengan dua anakknya yang masih kecil. Iseng-iseng saya tanya tentang istri atau ibu manak-anak tersebut yang tidak ikut. Orang tersebut akhirnya menceritakan kisah hidupnya. Laki-laki tersebut mempunyai nasib yang malang karena istrinya sering gila. Katanya dahulu waktu pacaran istrinya mneikah namun setelah mempunyai anak satu istrinya sarap atau gila. Istrinya akhirnya bisa sembuh setelah dirawat dirumah sakit beberapa bulan. Setelah sembuh mereka akhirnya mempunyai anak yang kedua namun baru tiga tahun gila istrinya kambuh lagi.

Sang suami tidak bisa terus menerus mengawasi istrinya yang gila karena dia harus bekerja sebagai tukang jahit dan akhirnya tidak tahu dimana rimbanya. Berbulan-bulan dicari namun istrinya tidak ketemu juga dan akhirnya memutuskan membawa kedua anaknya yang masih kecil tersebut ke kampung halamannya untuk dititipkan pada nenek dan kakeknya. Orang tersebut menceritakan kalau istrinya gila seperti orang tuanya yang ternyata gila.

Dari cerita diatas jelas pentingnya bibit dari orang-orang sehat dan baik. Gen dari orang-orang sehat dan baik akan menurunkan keturunan yang sehat dan baik juga. Dari cerita tersebut penting juga memperhatikan bibit dari calon pasangan anda bukan hanya melulu cinta. Bukankah banyak orang yang pergi dan tidak cinta lagi ketika tahu bahwa pasangannya tidak sehat atau mengidap penyakit yang mengerikan dan bisa menurun? Pertanyaan sekarang maukah anda mempunyai keturunan yang tidak sehat, gila atau penyakitan? Kalau tidak mau berarti anda harus memperhatikan bibit yang baik dari calon pasangan anda.

Bebet berarti dalam memilih pasangan anda harus memperhatikan keluarga calon pasangan. Apakah calon pasangan berasal dari keluarga baik atau tidak baik, dari keluarga kaya atau miskin dan lain sebagainya. Bayangkan kalau calon pasangan anda anak dari seorang koruptor, apakah nama baik anda akan terjaga? Apakah nama baik anda dan keluarga tidak akan terbawa-bawa? Tentu saja akan terbawa-bawa bukan? Anda sanggup ikut di cap sebagai koruptor?
 
Bayangkan juga bila anda menikah dengan calon pasangan hidup anda yang seorang perampok. Apakah nama baik anda akan terjaga? Akankah anda bahagia selama hidup dengan pasangan anda yang setiap saat selalu diincar polisi? Kalau anda bisa mengimbangi dan bisa bahagia dengan pasangan anda yang seorang perampok, bahagiakah anda bila pasangan anda ditangkap dan dipenjara? atau ditembak mati? Bila anda masih merasa bahagia lalu bagaimana dengan anak anda nanti? Tidak mungkin anak anda akan bangga pada orang tuanya yang seorang perampok bukan?

Bila calon pasangan anda dari keluarga miskin siapkah anda? Ingat biaya pendidikan, rumah sakit, sembako dan lain sebagainya semakin hari semakin mahal. Bayangkan bila calon pasangan anda dari keluarga yang mampu, enak mana coba?

 Bila calon pasangan anda dari keluarga yang kaya dan terpandang anda tentu akan ikut terpandan juga bukan? Makanya cari bebet yang baik.

 Bobot berarti dalam mencari pasangan mempertimbangkan apakah calon pasangan terpelajar? Mempunyai pendidikan yang tinggi atau rendah? Punya prestasi membanggakan atau orang biasa? Punya kedudukan atau pangkat atau tidak?  Coba kalau calon pasangan anda punya bobot yang baik, terpandang di dan dikenal oleh masyarakat, anda senang bukan? Dan anda pasti akan ikut terangkat namanya.

Sejujurnya dalam mencari pasangan memang harus menilik dari bibit bebet dan bobot. Coba kalau anda yang sangat terpelajar, berpendidikan tinggi, terus mendapatkan calon pasangan yang pendidikannya rendah, urakan. Mungkin cinta anda akan meredam semua kebodohan dan tingkah urakan pasangan anda namun apakah akan bertahan lama? Saya yakin cinta semakin lama semakin makan hati. Walaupun anda cinta namun anda juga tidak mau malu didepan teman-teman, saudara dan orang tua bukan?

Misal lagi anda mendapatkan seorang suami yang sangat kaya raya sedangkan anda berpendidikan rendah, apakah anda yakin anda akan bisa mengimbangi calon pasangan anda nantinya, apakah anda bisa mengimbangi gaya calon mertua dan keluarganya yang sangat kaya? Anda pikir sendiri. Yang jelas jurang yang tajam memang bisa diurug namun jurang anda dengan pasangan anda yakin bisa diatasi?

Pemuda jaman sekarang pasti akan lebih memilih cinta sebagai pertimbangan dalam mencari calon pasangan namun tidak ada salahnya mempertimbangkan bibit bebet dan bobot dan lebih melihat pada masa depan. Saya sendiri sejujurnya lebih memilih cinta sebagai pertimbangan namun saya juga mempunyai nasib yang mujur sesuai dengan bibit bebet dan bobot yang diajarkan.

 Semoga anda bisa mengambil hikmah tulisan ini

 

 

 

News Flash

Disini saya hanya share tentang rizki khususnya rizki yang bukan bersifat tetap seperti gaji, tunjangan atau rizki lain yang sudah diketahui terlebih dulu. Datangnya rizki seringkali aneh dan tidak masuk akal. Namun ini sering membuat galau. Bagaimana tidak galau, seringkali Allah memberitahu saya terlebih dulu tentang akan datangnya rizki yang diluar dugaan ini.

Read more...